I’m Back!!!
March 28th, 2010 by budhicrowBerharap bisa menulis lagi dalam blog ternyata keinginan terwujud. Akhirnya bisa juga nyambung ke blog tercinta tanpa harus menunggu lebih lama lagi…. Sungguh menyenangkan bisa kembali beraktifitas melakukan perjalanan imajinasiku….
PEMILU PRESIDEN
July 28th, 2009 by budhicrow
Pilpres 2009 telah berlalu. Keputusan dari Komisi Pemilihan Umum sudah diumumkan. Masih banyak kekurangan yang terjadi di sana sini. Laporan-laporan kecurangan mulai bermunculan. Apakah ini hanya akal-akalan? Apakah kecurangan yang terjadi merupakan salah satu bentuk cara pembodohan model baru?
Gegap gempita suara kemenangan bergema berdengung di lorong-lorong jalan memantul dari dinding kedinding. Suara mereka yang bersorak karena partainya menang. Bendera terus dikibar-kibarkan sebagai bukti tanda kegembiraan. Tetapi di ujung sana, beberapa orang tampak muram. Wajah mereka kuyu dan lemas. Beberapa diantaranya memasang tampang garang dengan mata yang membara. Ini tidak adil!!! Ini penuh kecurangan!!! Terdengar suara mereka berteriak berusaha menembus gelombang kegembiraan.

Indonesia memasuki babak baru dalam memilih presidennya. Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat tanpa melalui calo-calo di gedung MPR/DPR sewaktu jaman ORBA. Teorinya seperti itu. Seharusnya presiden yang terpilih akan mempunyai beban mental tersendiri. Ia akan lebih merasa bertanggungjawab dan merasa amat sangat bersalah apabila ada kebijaksanaannya yang amat sangat sangat merugikan rakyat Indonesia.
Sisi positif yang bisa dilihat dari peristiwa besar ini adalah munculnya sikap sportif positif yang dicontohkan oleh para calon presiden dan calon wakilnya. Mereka bersedia datang walaupun tidak setuju dan menerima keputusan dari KPU dengan alasan tersendiri. Jelas ini merupakan sikap maju bagi perkembangan mental bangsa ini yang punya sejarah “main belakang” seperti dukun, atau pemberontakan, dsb.
Pertanyaan saya sebenarnya cukup sederhana. Apabila kita melakukan PilPres tahap kedua, pasti akan keluar biaya lagi yang tidak sedikit. Pasti akan membuang banyak waktu dan semakin meningkatkan kecurigaan antar sesama calon serta para pendukungnya. Rakyat juga yang akan menjadi korban. Jelas sudah banyak rakyat Indonesia memilih wakilnya dari satu partai itu untuk duduk di DPR/MPR. Mungkin saja, mungkin saja, itu pulalah pilihan rakyat untuk Presidennya. Kalau ada putaran kedua PilPres bukankah akan semakin banyak kerugian yang harus ditanggung bangsa ini?

Kalau sampai terjadi kebijaksanaan pemerintah yang merugikan rakyat dan bangsa Indonesia maka saya rasa secara otomatis rakyat akan melakukan penggulingan kekuasaan. Ingat revolusi Prancis? Saya tidak mengharapkan hal seperti itu terjadi di negara kita tercinta ini. Negara kita adalah negara yang besar. Kenapa kita masih belum juga sadar???
Indonesia adalah negara yang sangat ditakuti di Asia. Itulah kenapa kita dilarang (secara halus dan kasar, langsung atau tidak) memiliki persenjataan yang lebih canggih dari negara tetangga. Persenjataan kita dibatasi. Gerak ekonomi kita diatur-atur oleh negara lain. Ekonomi negara kita tidak boleh kuat. Apakah kita sadar akan hal itu? Biarlah mereka yang duduk di atas para anggota dewan yang katanya terhormat itu kenyang dengan kemunafikkan mereka. Sibuk dengan uang hasil memeras rakyat yang menderita. Biarlah mereka nanti hancur akibat ketamakan mereka sendiri. Allah tidak buta. Tetapi bagi rakyat, yang terpenting adalah kesadaran bahwa kita tinggal di negara besar, bahwa kita adalah bangsa yang besar!!! Kita harus hidup dalam satu kesatuan yang tak terpecahkan sebagai bangsa Indonesia.
Janganlah kebodohan, kemunafikkan, kefanatikan buta membawa bangsa ini kejurang kehancuran. Biarlah orang-orang tua dengan dendam mereka sendiri. Biarlah orang-orang tua membusuk dengan kebencian dan kefanatikkan buta mereka. Toh mereka sebentar lagi mati. Jadi biarlah Tuhan yang akan menghakimi mereka dan dendam mereka. Jangan kita ikut campur kalau kita juga tidak mau diadili. Kita harus bangkit! Generasi sekarang harus membuka mata!
Trackback The Terorists
July 24th, 2009 by budhicrowBicara mengenai teroris di Indonesia mungkin suatu hal yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan. Semua media membahas tentang teroris dan permasalahan disekitarnya. Mulai dari mana asal daerahnya, namanya, keluarganya, latar belakang pendidikannya dan seterusnya dan seterusnya. Ada satu hal yang bagi saya cukup menarik yaitu akar permasalahan berangkatnya mereka menjadi seorang teroris.
Saya tertarik dengan percakapan yang dilakukan oleh Bung Karni dengan Bang Foke (Gubernur Jakarta) di TV One. Dalam tayangan itu Bang Foke menegaskan bahwa pembangunan ibukota Jakarta tidak akan berhasil jika tidak disertai-sejalan dengan pembangunan kesadaran masyarakatnya. Jakarta adalah rumah bagi warganya. Ini merupakan topik yang cukup menarik bagi saya jika dihubungkan dengan wacana terorisme. Mengapa? Menjadi sadar akan lingkungan sekitar, peduli dengan kebutuhan lingkungan yang paling dekat dengan kita bagi saya itu adalah salah satu ciri kebijaksanaan yang rendah hati. Ada pepatah cina mengatakan bahwa tak mungkin kita melapisi seluruh dunia dengan karpet, kita hanya bisa melapisi tepat di bawah telapak kaki kita. Perseteruan dan kebencian yang mendalam terhadap bangsa Amerika sudah melebar sedemikian jauhnya. Jauh dari tanah tempat pertikaian awal terjadi. Dan atas nama agama semua dendam dibalaskan. Atas nama agama semua pertumpahan darah dihalalkan. Atas nama agama ciptaan Allah dibunuh, disembelih, diledakkan, dicincang. Atas nama agama kemanusiaan dihilangkan-berubah menjadi binatang. Atas nama agama dan atas nama agama. Sebenarnya segala kelemahan manusialah yang berusaha disembunyikan dengan “atas nama agama”. Manusia yang tidak bisa lepas dari dendam kesumat, manusia yang penuh dengan ego.
Pernahkah Anda berbincang-bincang dengan Allah secara langsung secara pribadi ke pribadi? Bertatapan muka? Nabi Musa saja tidak bisa melihat wujud asli Allah. Apalagi kita. Lalu mengapa seolah-olah dengan mengatasnamakan agama maka kita sudah menjadi wakil juru bicara Allah? Melakukan semua tindakan kekejaman atas nama keadilan? Manusia….manusia….yang arogan dan lemah……
Ada salah satu film dokumenter (saya lupa judulnya) didalamnya terdapat wawancara seorang warga keturunan arab (entah dari mana sukunya) ia tinggal di Amerika dan mempunyai perkumpulan pengajian yang selalu berbicara mengenai kekejaman Amerika dan bagaimana mereka harus membalasnya. Ia mengatakan kepada si pewawancara bahwa kekejaman Amerika harus dibalas karena ada sanak saudaranya yang terbunuh dalam perang oleh senjata-senjata Amerika. Dia punya hak untuk mengatakan itu karena keluarganya terbunuh dalam perang. Tetapi bagaimana dengan Imam Samudra? Bapak atau Ibunya ada yang terbunuh oleh tentara Amerika? Kalau disambung-sambungkan Kutub Utara juga bisa nyambung dengan Kutub Selatan.
Jika kita mencari kelemahan orang lain itu hal yang paling mudah karena tidak ada satu manusia pun di dunia ini diciptakan sempurna. Semua hal bisa disambung-sambungkan asal orang itu terlihat lemah dan bersalah. Kesempurnaan hanya milik Allah. Lalu mengapa kita mencari kelemahan orang lain sementara kelemahan kita sendiri pun sangat banyak? Manusia….manusia….manusia…..
Seorang anggota Jamaah Islamiyah diwawancara di TV One. Ia bisa merakit bom hanya dalam waktu sekitar 15 menit jika semua bahan tersedia. HEBAT! Tetapi yang tidak hebat adalah ketika ia ditanya logika berpikir alasan melakukan bom bunuh diri. Pewawancara menanyakan jika ingin melakukan bom bunuh diri kenapa tidak dilakukan di Singapur atau Malaysia yang jelas-jelas modal asing banyak ditanamkan di kedua negara tersebut. Banyak pengusaha Yahudi menanamkan modalnya di sana. Kenapa harus di Indonesia untuk melakukan pembalasan kepada Amerika dan antek-anteknya? Tetapi si anggota JI ini tidak dapat menjawabnya. Ironi bukan? Anda bersedia mempertaruhkan nyawa Anda untuk alasan yang sebenarnya di hati kecil Anda sendiri juga mempertanyakannya. Aneh. Pemilihan cara menuju maut yang bodoh. Inikah potret bangsa Indonesia? Bodoh? Dibutakan oleh fanatisme berlebihan? Janji kalau Anda mati akan masuk surga apakah itu sudah pasti? Seperti saya tulis tadi, apakah Anda sudah bertemu langsung dengan Allah untuk memastikan bahwa Anda masuk surga? Itukan hanya kata manusia. Kata-kata yang penuh dengan maksud terselubung. Bisa baik, bisa pula jahat.
Saya lebih setuju dengan semangat Bushido orang Jepang. Mereka mempertaruhkan nyawa dan harga diri mereka untuk kemajuan bangsanya. Buat apa teriak-teriak membabi-buta dengan emosi yang meledak-ledak membela Palestina sementara banyak saudara sebangsa dan se-tanah air kita sendiri yang tidak dapat makan, di PHK, bodoh dan terbelakang, sakit, sekarat, terabaikan dan masih banyak penderitaan yang lainnya. Palestina merdeka itu hak mereka. Memberikan dukungan tidak dilarang, tetapi bila menjadi fanatisme berlebihan bukankah itu suatu hal yang sia-sia? Segala sesuatu yang berlebihan itu biasanya tidak baik. Dan apakah kita akan membiarkan dendam kesumat orang lain merasuki jiwa kita? Merusak akhlak dan moral kita sehingga kita berubah menjadi makhluk buas yang biadab? (singa tidak makan anaknya loh) Bisakah kita mempertanggungjawabkannya nanti di hadapan Allah? Marilah kita bangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Semua jiwa positif boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Jendral Surya, mantan Komandan Densus 88, sudah memberikan contoh yang baik. Setelah ditangkap, diadili, dan dihukum seorang teroris tidak begitu saja dilepas sendirian. Ia mengayomi mereka, memberikan perhatian. Bisakah kita sebagai bangsa yang besar melakukan apa yang seorang Jendral Surya lakukan? Kalau kita mau maju kata-kata membuka wawasan dan pola berpikir sering digunakan, tetapi bisa dipraktekkan menjadi kenyataan??? Who knows. Tidak ada yang tahu pasti.
Siapa menabur dia akan menuai. Darah akan dibalas dengan darah. Ingat cerita Ken Arok menjadi raja? Itukah wajah Islam yang ingin diwujudkan?
Manohara…oh…Manohara… (02)
June 2nd, 2009 by budhicrow
Masalah…masalah….
Sebagai sebuah keluarga, permasalahan tentu saja ada. Beberapa individu yang berbeda kepribadiannya bergabung menjadi satu komunitas pastilah akan timbul berbagai masalah. Permasalahan yang timbul biasanya adalah pergesekan kepentingan atau kebutuhan. Setiap kasus berbeda penyelesaiannya. Ada pendekatan yang berbeda dalam menuntaskan suatu permasalahan. Tetapi sebaiknya memang sebuah keluarga menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara kekeluargaan, dibicarakan secara baik-baik dan terbuka antar anggota keluarga. Bila tidak ditemukan jalan keluar mungkin bisa memanggil pihak ketiga. Seringkali terjadi suatu permasalahan tidak ada jalan keluarnya karena masing-masing pihak bersikukuh untuk mempertahankan pendiriannya. Mereka merasa apa yang sudah mereka jalani dan putuskan adalah sebuah kebenaran. Lalu apa yang didapat? Rasa menang? Atau malah rasa sakit yang mengakibatkan renggangnya hubungan keluarga? Beberapa jawaban umum sering diberikan sebagai solusi seperti saling terbuka, saling berkomunikasi, jujur, saling menerima apa adanya, dsb, tetapi tidak semua permasalahan bisa dijawab dengan mudah.

Artis-artis lebih memilih trend cerai ketika terbentur masalah dalam hubungan pernikahan mereka. Alasannya sudah tidak ada kecocokkan….waaduuhh…dulu waktu pacarannya pasti banyak obral janji seperti kampanye kali ya, habis pencoblosan selesai sudah. Bagaimana ini? Kalau mereka belum memiliki anak mungkin tidak terlalu menjadi masalah, tetapi bila sudah ada? Saya yakin pertumbuhan jiwa dan mental mereka pasti berbeda dengan anak-anak yang memiliki orangtua lengkap dalam sebuah lembaga pernikahan. Biasanya anak-anak seperti itu akan mencari-cari perhatian dan melakukan tindakan anarkis.

Kasus Manohara membawa permasalahan keluarga keluar dari lingkungannya. Apakah itu disengaja? Apakah ada maksud lain? Mengapa Manohara yang baru saja mendapat perlakuan buruk (katanya) seperti pelecehan dan penyiksaan seksual masih bisa tetap tersenyum gembira? Pada beberapa kasus penyiksaan secara seksual, korban akan sangat tertekan-malu-sebab harga dirinya terinjak-injak, harga dirinya sudah tidak ada lagi, hilang, sehingga raut ekspresi depresi menghiasi seluruh wajah selama jumpa pers berlangsung. Jangan harap ada senyum di wajah, yang terlihat hanya bayangan dendam tergurat di kening mereka. Bagaimana dengan Manohara? Saya tidak menemukan keseriusan wajahnya dalam tayangan televisi. Benarkah apa yang terjadi dengan Manohara??? Kalau benar maka permasalahan keluarga haruslah diselesaikan secara kekeluargaan. Peran negara sebagai pihak ketiga yang memediasi keduanya rasanya cukup dibutuhkan karena Manohara sebagai warga negara Indonesia (kalau memang berstatus warga negara Indonesia) punya hak dilindungi. Tetapi pernikahan ini juga melibatkan kepentingan dua negara yang bertetangga sehingga jangan sampai permasalahan keluarga ini malah menjadi isu politik, agenda politik, tujuan politik, yang dapat meyeret kedua negara dalam permasalahan yang berlarut-larut. Ada baiknya bila keluarga besar suami Manohara mengevaluasi diri, keluarga besar Manohara juga mengevaluasi diri, begitu juga dengan KBRI di Malaysia. Membuka aib orang di depan media bukanlah jalan bijaksana. Bisa-bisa malah akan mendatangkan masalah baru. Nah untuk itulah kita perlu berhati-hati menanggapi kasus Manohara karena kalau salah maka kepentingan dua negara dipertaruhkan, artinya 200 juta lebih rakyat Indonesia akan menanggung akibatnya bila sampai ada keputusan yang salah.

Manohara…oh…Manohara… (01)
June 1st, 2009 by budhicrow
Kisah Manohara cukup menyita perhatian dari berbagai kalangan. Tanggapan dari kisah Manohara cukup beragam. Ada yang simpati, ada yang tidak peduli, ada yang menyalahkan sang ibu, dan masih banyak lagi. Rasa empati terhadap permasalahan keluarga yang dialami oleh Manohara mengalir deras dari berbagai pihak. Manohara yang masih kecil belum dewasa secara mental untuk siap terjun ke dalam bahtera rumahtangga dan tersiksa (katanya) membuat sebagian masyarakat Indonesia terenyuh. Unjuk rasa digelar. Jumpa pers ditayangkan. Jalur hukum ditempuh. Benar-benar usaha yang luar biasa untuk sebuah kasus keluarga.

Bila kita menilik kasus Manohara dan mencermatinya, menurut saya ada poin-poin yang bisa kita lihat. Saya mengangkat beberapa poin saja, antara lain:
- Pengaruh orangtua terhadap hidup sang anak
- Permasalahan keluarga
- Hak Asasi
- Hubungan kedua negara
Bagi saya keempat poin di atas cukup menarik untuk dijadikan bahan permenungan refleksi diri untuk sejenak.

Pengaruh orangtua terhadap hidup sang anak
Sudah sejak jaman dahulu yang namanya orangtua kudu harus dihormati. Hampir semua kebudayaan di negara kita tercinta ini mendukung teori tersebut. Cerita rakyat seperti “MALIN KUNDANG“, “BATU MENANGIS“‘, dsb, memperkuat peran orangtua sebagai figur yang harus dihormati dan dipatuhi disertai dengan berbagai ancaman hukuman yang mengerikan jika kita tidak menuruti kehendak orangtua. Hukuman-hukuman ditimpakan kepada sang anak yang tidak menghormati, menyayangi, dan menuruti perintah ibu atau bapaknya seolah-olah adalah hukuman yang diberikan Tuhan. Power by Fear yang diterapkan oleh orangtua yang menganut paham ini secara harafiah apa adanya pastilah membuat pertumbuhan jiwa sang anak mengalami gangguan, bisa positif atau negatif. Ada teman saya yang sudah cukup berumur tetapi masih takut kepada orangtuanya karena dia merasa orangtua adalah wakil Tuhan di dunia. Jadi bila ia membantah sedikit saja maka ia merasa pintu neraka akan terbuka lebar dan menarik dirinya untuk bergabung menjadi penghuni tetap di sana. Cukup menarik juga apa yang ditakutkan oleh teman saya itu. Pertanyaan yang menggelitik saya mengenai teori KEPATUHAN TERHADAP ORANGTUA ini adalah apakah menghormati dan mencintai orangtua sama dengan menuruti semua perintah dan larangan mereka? Orangtua juga manusia biasa sama seperti anak-anaknya. Kelebihan mereka adalah merekalah yang melahirkan dan merawat kita, mereka adalah orang-orang yang lahir lebih dulu sehingga pengalaman hidup mereka boleh dikatakan lebih banyak dari yang kita miliki, menurut agama dan budaya-para orangtua adalah wakil Allah, dst…dst…. Mereka ada kelebihan dan juga kekurangan. Mereka adalah manusia biasa yang bisa salah kapan pun. Bila mereka salah patutkah kita membenci mereka? Kasus Manohara merupakan salah satu kasus bagaimana orangtua menjerumuskan sang anak dalam lembah persoalan. Persoalan yang bisa membahayakan semua orang. Hidup dipertaruhkan.

Kasus yang sama juga terjadi pada artis Ussy, di mana sang ibu punya andil terhadap kegagalan rumah tangga sang anak. Kasus-kasus seperti ini berulang sepanjang jaman. Memang ada beberapa kasus yang berkahir romantis dan bahagia tetapi bagaimana bila akhir ceritanya adalah kematian sang anak? Apakah orangtua juga tidak akan menyesal?
Menghormati dan mencintai orangtua tidaklah sama dengan mematuhi orangtua secara membabi-buta. Orangtua perlu mawas diri dan berhati-hati ketika memberikan perintah, larangan, atau permintaan. Jangan sampai kata yang sudah terucap malah membawa penderitaan pada anak yang kita cintai. Terkadang pikiran para orangtua sudah dibatasi dengan pengalaman mereka, budaya asal mereka, pola pendidikan yang diterapkan oleh kakek-nenek dahulu, serta agama secara apa adanya membuat mereka menjadi “TUHAN” atas kehidupan anak-anak mereka. Para orangtua tidak lagi membuka hati dan pikiran secara tenang dan dewasa, legowo-ikhlas membuka diri terhadap perubahan zaman dan pengalaman baru. Mungkin bagi para orangtua perlu merefleksikan sejenak perjalanan hidup mereka dan mengambil hikmah dari karya Allah sepanjang hidup mereka sehingga mereka pun dengan sadar secara ikhlas dan dewasa membiarkan anak-anak mereka turut bertanggung jawab terhadap kehidupan yang telah mereka pilih. Dengan begitu mereka akan menjadi dewasa secara bijaksana di bawah bimbingan orangtua. Bagi anak pun perlu untuk belajar menyampaikan keberatan tanpa menyakiti perasaan orangtua. Mungkin para orangtua perlu diberikan penjelasan dengan data-data yang akurat, relevan, dan masuk akal. Waktu juga menjadi kunci dalam hubungan antara orangtua dan anak. Sabar dan saling terbuka serta menerima kelebihan dan kekurangan adalah kata kunci dalam berhubungan dan berkomunikasi. Jadi bukankah kita semua juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dan hanya tunduk kepada kuasa Allah?
TATA MOBIL
May 26th, 2009 by budhicrow
Wah…wah…ini baru mengejutkan! Sekarang di India telah diproduksi mobil NANO hasil dari TATA Motors. Mobil ini dilepas dengan harga sekitar 20 - 25 juta rupiah di India. Bisa dibayangkan bukan? NANO bermesin dua silinder, 4-speed bertransmisi manual, dan mampu melesat dengan kecepatan tertinggi 105 km/jam. Nano adalah mobil dengan panjang 3,1 meter(panjang mobil di India sementara di Eropa panjangnya 3,29 meter sedangkan lebar 1,58 meter) , menggunakan mesin 2 silinder, 624 cc dan mampu menghasilkan tenaga 33PS. Konsumsi bahan bakarnya 20 km/liter dan bisa membawa 4-5 penumpang. Lapisan mobil NANO memang terbuat dari alumunium dengan maksud mengurangi biaya juga dapat menambah kecepatan.

Memang mobil NANO ini punya kelebihan dibandingkan dengan mobil-mobil sekelas yang ada dipasaran karena harganya jauuuh lebih murah, tetapi mobil ini juga memiliki kelemahan seperti tidak punya AC, booster rem, power steering, radio, dan kaca spion dalam. Penghapus kaca pun hanya satu. Interiornya juga sangat sederhana.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya terobosan baru di bidang mobil murah ini bisa melakukan pengiritan emisi juga ramah lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Bila ada sebuah keluarga kecil yang akan melakukan perjalanan ke sebuah mall untuk jalan-jalan rekreasi maka dengan adanya mobil seperti NANO ini akan membuat konsumsi bahan bakar agak berkurang. Coba bayangkan jika harus naik 2 motor, pasti lebih boros. Dan lagi pula akan membuat keluarga menghemat pengeluaran mereka, jadi bisa ada yang di tabung.

Anehnya kenapa ya pebisnis di Indonesia nggak punya pikiran seperti itu? Orang Indonesia banyak yang kreatif, pangsa pasar luas karena kebanyakan adalah orang-orang dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah, jadi rasanya peluang seperti ini sangat mudah diciptakan. Tapi nggak aneh sih, lah wong PERTAMINA saja baru membuat konsep ONE STOP SHOPPING aja di SPBU-SPBU baru beberapa tahun belakangan ini setelah marak SPBU asing mengusung konsep ONE STOP SHOPPING. TELAT, PAK!!! Tapi mungkin juga karena para pebisnis di Indonesia tidak mau diribetkan dengan regulasi/ peraturan-peraturan (yang bukan rahasia umum lagi) memakan banyak biaya. Yaaah…jatuh-jatuhnya harga jadi melambung juga…..bagaimana ini? Tapi ini suatu inspirasi bagi pemerintah, para pelaku bisnis, dan masyarakat Indonesia untuk semakin berpikir maju mengenai kesejahteraan bangsa seutuhnya. Orang Indonesia hebat-hebat, kok. Kapan ya ada di Indonesia….hehehehe…boleh jg lah buat keluarga kecil di sini…

Sssst…
May 19th, 2009 by budhicrowBertanya pada hujan
Bodoh karena hanya mengalir….
Bertanya pada angin
Dungu karena mereka pengembara….
Ketika kutanya matahari
Dia diam sambil menutup malam….
Sebab awan berlalu dan rembulan memucat
Bagaimana jika kubertanya padamu?
Ssssttt….ini rahasia ya….
Kau dan aku saja
Tidak ibumu, apalagi bapakmu
Sebab tajam lidahku
Garang wajahku
Anyir senyumku
Keramahan takkan kau temui
bersama malam yang abadi
Ssssttthh…. ini rahasia
Jangan ada yang tahu
Tidak tembok dan juga bayangan
Cahaya dan kegelapan
Hatimu dan hatiku
Ssssttthh…!!!
Panti Asuhan St. Thomas
May 18th, 2009 by budhicrow
Menyenangkan kembali bisa berada di tengah-tengah keluarga dan bersama orang yang saya kenal dan sayangi. Itu pikiran pertama saya ketika sampai di Jakarta. Ternyata berada jauh dari orang-orang yang kita sayangi malah memberi mereka ruang di hati untuk berkembang mengisi relung-relung jiwa kita. Rasa rindu untuk bertemu kembali begitu mendesak. Saya mengerti mengapa banyak pekerja-pekerja yang pergi jauh dari keluarga benar-benar memanfaatkan waktu liburan mereka untuk pulang ke rumah. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tak bisa lagi mengunjungi keluarganya? Bagaimana dengan mereka yang kehilangan keluarganya? Suatu perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan tulisan sebab mengakar dalam di jiwa. Kenangan akan mereka yang hadir dalam kehidupan membawa nilai tersendiri bagi kita.
Tiga hari lamanya saya berada di Panti Asuhan Santo Thomas, Jimbaran – Bandungan, Semarang. Panti ini terletak di dataran yang cukup tinggi dan hanya berjarak sekitar setengah jam dari kota Semarang. Udara yang dingin sejuk menyapa kedatangan kami pada pukul 2 pagi hari. Para penghuni panti masih terlelap kecuali seorang suster biarawan yang masih terbangun menunggu kedatangan kami. Panti asuhan yang dihuni oleh 20 orang anak usia TK sampai SMK membawa arti tersendiri. Mereka berada di panti bukan atas kemauan mereka. Rata-rata keberadaan mereka di panti karena orangtua atau keluarga dekat mereka sendiri tidak lagi mampu atau mau menampung mereka. Anak-anak itu seolah-olah menjadi orang-orang terbuang. Mereka tidak diberikan pilihan. Hidup seolah tidak adil bagi mereka. Perjalanan hidup dilalui dengan kepasrahan dan terkadang lemas tanpa perjuangan dan arah tujuan. Senang rasanya bisa hadir diantara mereka membawa sedikit kegembiraan. Mereka merasa mendapatkan tempat untuk berbagi, orang yang bisa diajak untuk bercerita. Saya merasakan kerinduan akan sosok figure di jiwa mereka. Sudah sejak dini mereka diajarkan untuk hidup mandiri mampu menjaga diri mereka sendiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dengan usia mereka yang masih kecil ternyata mereka butuh tempat sejenak untuk menyandarkan diri.
Ada cerita seorang anak, Marsel-kelas 2 SD, yang senang membantu keluarga orang yang sedang meninggal. Dia bisa merasakan kepedihan itu sebab ia sudah tidak mempunyai ayah dan tahu rasanya ditinggal seseorang yang dikasihi. Dengan tangan-tangan kecilnya ia membantu keluarga yang berduka menggali kubur. Syukur-syukur diberikan ucapan terima kasih ala desa (beras, teh, kopi, gula) yang langsung dia bagikan untuk saudara-saudaranya satu pantu asuhan. Dia menceritakan pada saya apa yang dia lakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran. Saya menangkap betapa ia melihat makna penderitaan orang lain sebagai bagian dari dirinya. Rasa empatinya terhadap orang lain cukup besar. Lain Marsel lain pula Wawan. Wawan, kelas 6 SD, adalah salah satu penghuni panti yang ditinggal meninggal oleh sang ayah. Dahulu konon ayahnya adalah seorang pengusaha apotik terkemuka di Semarang tetapi ternyata nasib berkata lain, sang ayah meninggalkan Wawan dan Aji-adiknya terlebih dahulu. Ibu mereka entah berada di mana. Di hari pemakaman sang ayah, saat itu juga mereka dititipkan di panti. Keluarga mereka? Entahlah. Tetapi yang membanggakan Wawan berhasil mendapatkan peringkat pertama pada ujian try out se-kecamatan. Prestasi yang pasti akan membuat orangtuanya bangga, tetapi kepada siapa ia akan membanggakan kehebatannya itu? Udara dingin di Bandunganlah yang menyambutnya, senyum suster sederhana yang berusaha mewakili ibu merekalah yang menghangatkan jiwa. Tetapi saya yakin ada kekosongan dalam jiwa mereka. Sungguh saya merasakan itu.
Walaupun panti ini diasuh oleh seorang suster biarawan tetapi permasalahan agama bukan menjadi kendala. Bagi mereka yang memang beragama Islam dapat mengikuti pengajian di mesjid dekat panti asuhan. Ketika berbicara tentang kemanusiaan maka batasan agama tidak lagi menjadi kendala. Agama bukan lagi komoditi dagang seperti yang terjadi di Indonesia. Agama ditunggangi dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Dimanakah posisi Allah jika agama yang diciptakan-Nya menjadi mainan? Memang manusia Indonesia LUAR BIASA (KETERLALUAN)!!! Tetapi masih banyak orang yang tetap malakukan praktek ini di lapangan.
Senang rasanya berada di tengah-tengah mereka. Mereka adalah anak-anak dengan perjalanan masa depan yang luar biasa. Saya hanya bisa berbagi pengalaman, memberikan semangat hidup dan harapan bagi jiwa mereka sebab harta akan habis, tulisan akan memudar, tetapi tidak dengan jiwa yang bercahaya terang dengan keinginan untuk maju. Semoga Allah selalu menyertaimu, adik-adikku.

One Day in Semarang
May 16th, 2009 by budhicrowKota Semarang bagi saya sangat awam karena baru pertama kali saya berada di kota itu. Ketika pertama menginjakkan kaki di stasiun kereta Semarang Tawang, saya disuguhkan dengan pemandangan yang asing. Baru kali ini saya melihat ada stasiun kereta yang diuruk (ditinggikan) sedemikian tinggi. Belum selesai keheranan saya, mata saya tertuju pada sebuah kolam besar di depan stasiun. Ternyata kolam tersebut bertujuan agar ROB (pasang besar) yang biasa terjadi di Semarang tidak membanjiri stasiun kereta.

Karena waktu saya hanya sehari maka perjalanan saya mengelilingi kota Semarang tidak terlalu membawa cerita yang cukup banyak tetapi saya cukup membawa cerita yang saya rasa cukup dalam. Keprihatinan saya melihat kota Semarang yang menjadi padat dengan penduduk dan permasalahan sosial lainnya cukup terlihat. Dari pemandu saya mengetahui kalau ada seorang anak remaja wanita -anak jalanan- sudah dia lihat dari si anak masih kecil dan ternyata sekarang sudah punya anak. Saya memperkirakan usianya paling sekitar 13 sampai 15 tahun. Sungguh suatu ironi ditengah maraknya pembangunan kota Semarang dengan gedung-gedung megahnya. Belum lagi munculnya banyak “ciblek-ciblek” usia muda yang kian hari-kian bertambah di kota Semarang. Bagi saya para ciblek itu bukanlah akar permasalahan utama, tetapi saya lebih bertanya kenapa mereka sampai bermunculan, apa yang telah terjadi? Apakah lapangan pekerjaan di daerah sudah tidak mampu lagi menampung para pekerja wanita? Mengapa mereka memilih jalan pintas? Ada yang salah dengan moral bangsa ini? Ingat akan Tuhan memang jawaban utama tetapi bila hanya segelintir orang yang mengingatnya buat apa? Keberadaan mereka di pinggir jalan merupakan teguran Tuhan bagi kita mengapa kita tidak memperhatikan sesama padahal Tuhan sudah menjaga kehidupan kita. Jawaban singkat dan gampang adalah masukkan mereka ke pesantren, dinas sosial, dididik oleh biarawan atau rohaniwan atau apalah yang berbau agama tetapi apakah itu berarti juga melemparkan sedikit tanggung jawab kepada Tuhan? Kepada orang lain? Kenapa kita tidak mau terlibat?
Perjalanan saya tidak hanya berhenti di situ. Saya sempat mampir ke Gereja Mblenduk. Melihat bangunan Gereja yang usianya cukup tua membuat saya sejenak merenung akan kehadiran dan penyertaan Tuhan sejak dunia ini diciptakan. Kata penjaga di gedung saya tidak boleh mengambil gambar di dalam Gereja karena bisa tidak jadi - katanya - saya sih manut-manut saja, tidak ada salahnya walaupun dalam hati agak menyesal karena ornamen dan bentuk arsitektur di dalam Gereja menurut saya indah jadi sayang kalau tidak difoto.
Yah, begitulah sejenak perjalanan saya selama sehari di Semarang. Kesan ingin kembali ke kota itu pasti karena banyak yang terlewatkan. Semarang merupakan kota yang punya banyak cerita sejarah. Semarang merupakan kota yang indah. Buat rekan-rekan yang ingin ke kota Semarang jangan cuma sehari seperti saya, ya….hehehehe….
It’s a great place.







